Home Berita dan Tren Terbaru Memahami Gender dalam Kesehatan: Mengurai Ketidaksetaraan demi Layanan yang Lebih Inklusif

Memahami Gender dalam Kesehatan: Mengurai Ketidaksetaraan demi Layanan yang Lebih Inklusif

18
221

Selama ini, banyak yang masih keliru memahami istilah “gender”. Tak jarang, gender disamakan dengan jenis kelamin biologis—padahal keduanya memiliki makna yang sangat berbeda. Jika jenis kelamin merujuk pada perbedaan biologis seperti organ reproduksi, maka gender merupakan konstruksi sosial dan budaya yang membentuk peran, perilaku, serta tanggung jawab yang dianggap “pantas” bagi laki-laki dan perempuan.

Sejak kecil, individu tumbuh dalam norma-norma sosial yang secara tidak langsung mendikte siapa yang seharusnya memimpin, merawat, bekerja, atau tinggal di rumah. Misalnya, laki-laki dianggap kuat, rasional, dan pengambil keputusan; sedangkan perempuan diasosiasikan dengan sifat lembut, emosional, dan penurut. Anggapan-anggapan ini tidak hanya terbentuk dari keluarga, tetapi juga direproduksi dalam pendidikan, media, dan bahkan pelayanan kesehatan.

Sayangnya, pembedaan peran ini tidak jarang melahirkan ketidakadilan dan ketimpangan. Perempuan, misalnya, kerap mengalami beban ganda: mengurus rumah tangga dan sekaligus bekerja. Selain itu, akses perempuan terhadap layanan kesehatan juga masih dibatasi oleh berbagai hambatan, mulai dari waktu operasional fasilitas yang tidak fleksibel hingga budaya yang menempatkan keputusan pada laki-laki dalam rumah tangga.

Ketimpangan ini sangat berdampak dalam dunia kesehatan. Misalnya, tingginya angka anemia pada perempuan seringkali disebabkan oleh ketimpangan akses terhadap makanan bergizi di rumah. Remaja laki-laki cenderung terdorong melakukan perilaku seksual berisiko untuk menunjukkan “kelelakiannya”, sementara remaja perempuan tidak dibekali kemampuan negosiasi dalam hubungan seksual yang aman karena dianggap tabu membicarakan seks.

Kita juga melihat bagaimana standar layanan kesehatan cenderung berpihak pada laki-laki, misalnya dalam riset dan pengembangan obat yang sebagian besar menggunakan laki-laki sebagai standar uji klinis. Padahal, respons tubuh perempuan bisa sangat berbeda dan berdampak terhadap efektivitas serta keamanan pengobatan.

Mengapa Pengarusutamaan Gender (PUG) Penting dalam Kesehatan?

Pengarusutamaan Gender (gender mainstreaming) adalah strategi untuk memastikan bahwa perspektif gender diintegrasikan ke dalam setiap tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, hingga evaluasi kebijakan dan program. Dalam konteks kesehatan, PUG bertujuan untuk menjawab kesenjangan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan dalam hal akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat dari layanan kesehatan.

Dengan PUG, perbedaan kebutuhan berdasarkan gender akan dikenali dan dijawab secara adil. Misalnya, waktu layanan puskesmas disesuaikan agar ibu rumah tangga bisa mengaksesnya tanpa mengganggu tanggung jawab domestik. Atau, pelibatan suami dalam program Keluarga Berencana, sehingga kontrasepsi tidak lagi dianggap hanya urusan perempuan semata.

PUG juga mendorong adanya kebijakan dan program kesehatan yang responsif terhadap pengalaman perempuan—misalnya memastikan perempuan mendapatkan akses deteksi dini kanker, atau menghapus stigma terhadap perempuan penderita Infeksi Menular Seksual (IMS).

Tanpa pengarusutamaan gender, program kesehatan berisiko gagal menyasar kelompok yang paling rentan. Misalnya, jika layanan HIV/AIDS hanya dirancang berdasarkan perilaku laki-laki, maka perempuan yang mengalami kekerasan seksual, tidak memiliki daya tawar, atau tidak bisa menegosiasikan penggunaan kondom akan tetap terpinggirkan.

Arah Perubahan: Membangun Layanan Kesehatan yang Setara

Kita butuh pendekatan yang lebih dari sekadar menyediakan layanan kesehatan. Kita perlu membangun kesadaran kritis tentang peran gender dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana hal itu mempengaruhi pilihan serta peluang kesehatan seseorang.

Langkah-langkah konkrit bisa dimulai dari:

  • Meningkatkan edukasi kesehatan reproduksi sejak dini yang setara bagi anak laki-laki dan perempuan.
  • Melatih tenaga kesehatan agar sensitif terhadap keragaman gender dan kebutuhan khusus pasien.
  • Mengintegrasikan isu gender dalam kebijakan kesehatan nasional dan daerah.
  • Memberdayakan perempuan agar memiliki kontrol terhadap keputusan kesehatannya sendiri.
  • Meningkatkan keterlibatan laki-laki dalam kesehatan keluarga, termasuk dalam perawatan anak, pemeriksaan kehamilan, dan kontrasepsi.

Pada akhirnya, kesadaran akan isu gender bukan hanya urusan perempuan atau aktivis. Ini adalah bagian dari upaya membangun sistem kesehatan yang adil, responsif, dan menghormati hak asasi setiap manusia. Mengarusutamakan gender berarti mewujudkan layanan kesehatan yang inklusif, relevan, dan berkeadilan bagi semua.

Soal Latihan
Ceritakan pengalaman pribadi Anda (atau pengamatan langsung di lingkungan sekitar) terkait ketimpangan gender dalam akses layanan kesehatan. Jelaskan bagaimana hal tersebut memengaruhi individu yang terlibat, dan bagaimana seharusnya pengarusutamaan gender diterapkan untuk mengatasi situasi tersebut.

18 COMMENTS

  1. Di sebuah kawasan padat penduduk di Tanjung Priok, Jakarta Utara, saya mengamati kasus seorang ibu muda bernama Mbak Rini yang mengalami gejala depresi pascamelahirkan. Meski sudah merasa tidak stabil secara emosional dan fisik, ia kesulitan mengakses layanan kesehatan. Suaminya bekerja sebagai buruh pelabuhan dan jarang berada di rumah, sementara ia tidak memiliki dukungan keluarga dekat di Jakarta. Keterbatasan biaya dan pengasuhan anak juga menjadi hambatan besar.

    Mbak Rini sempat ingin berkonsultasi ke puskesmas, namun tidak tahu bahwa layanan kesehatan jiwa tersedia secara gratis. Tidak ada sosialisasi yang menjangkau ibu rumah tangga seperti dirinya, dan masyarakat sekitar pun masih menganggap masalah kejiwaan sebagai hal yang tabu atau “bukan penyakit serius”. Akibatnya, kondisi Mbak Rini memburuk, dan berdampak pada pola asuh dan tumbuh kembang anaknya.

    Sebaliknya, laki-laki di lingkungan tersebut cenderung lebih mudah dan cepat dalam mengakses layanan kesehatan. Ketika seorang ayah atau kepala keluarga jatuh sakit, seluruh anggota keluarga segera mencari solusi. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan peran yang membuat kesehatan perempuan kurang diprioritaskan.

    Dampak Ketimpangan Ini
    Perempuan merasa tidak berdaya dalam membuat keputusan kesehatan.

    Penyakit atau gangguan mental terlambat ditangani, yang berisiko memperburuk kondisi individu dan keluarganya.

    Perempuan mengalami beban ganda: menjaga keluarga sambil menanggung gangguan kesehatan tanpa dukungan yang memadai.

    Pengarusutamaan Gender: Solusi yang Harus Diterapkan
    Untuk mengatasi situasi ini, diperlukan penerapan pengarusutamaan gender dalam layanan kesehatan, antara lain:

    Peningkatan edukasi dan sosialisasi tentang layanan kesehatan jiwa dan reproduksi, terutama bagi ibu rumah tangga di permukiman padat.

    Pelibatan laki-laki dalam program-program kesehatan keluarga, seperti kelas ayah, parenting bersama, dan konseling pasangan.

    Pemberdayaan perempuan melalui pelatihan keterampilan dan akses ekonomi agar mereka memiliki otonomi lebih besar atas kesehatan dan kehidupannya.

    Puskesmas ramah gender, dengan penyediaan ruang konsultasi yang privat, tempat bermain anak, dan sistem kunjungan rumah untuk ibu yang tidak bisa datang sendiri.

  2. Selamat malam,saya machbuby 01230100009

    Pengalaman di Tempat Kerja sebagai Teknisi: Ketimpangan Gender dalam Akses Layanan Kesehatan

    Saya bekerja sebagai teknisi di sebuah perusahaan manufaktur yang mayoritas karyawannya adalah laki-laki. Namun, ada juga beberapa rekan perempuan yang bekerja di bagian teknis dan perawatan mesin. Dalam keseharian, saya melihat bahwa rekan perempuan sering menghadapi tantangan ganda—tidak hanya dalam hal pekerjaan fisik yang berat, tetapi juga dalam akses terhadap layanan kesehatan yang setara.

    Salah satu rekan kerja perempuan, sebut saja Mbak Rina, pernah mengalami nyeri punggung yang cukup parah akibat mengangkat beban berat berulang kali. Ketika dia ingin mengajukan izin untuk berobat, supervisor justru mempertanyakan apakah dia “kuat” bekerja di lapangan. Bahkan ada komentar dari rekan laki-laki lain yang menyiratkan bahwa perempuan “seharusnya tidak kerja di bidang teknis seperti ini.”

    Mbak Rina akhirnya menunda berobat karena merasa sungkan dan tidak ingin dianggap lemah atau tidak kompeten. Akibatnya, kondisi fisiknya semakin memburuk, dan akhirnya ia harus mengambil cuti panjang setelah kondisinya makin parah.

    Dampak terhadap Individu

    Ketimpangan ini berdampak langsung terhadap kesehatan dan mental rekan perempuan saya. Ia merasa tidak didukung dan tidak mendapatkan perlakuan yang sama dalam mengakses haknya atas layanan kesehatan. Di sisi lain, laki-laki yang mengalami cedera serupa biasanya lebih cepat ditangani karena dianggap “serius” dan memang wajar bagi pekerja teknis.

    Penerapan Pengarusutamaan Gender di Lingkungan Kerja Teknisi

    Sebagai teknisi, saya menyadari pentingnya penerapan pengarusutamaan gender di lingkungan kerja kami yang cukup maskulin. Beberapa langkah yang seharusnya diterapkan antara lain:

    1. Perlakuan Setara dalam Akses Kesehatan: Semua pekerja, tanpa memandang gender, harus punya hak yang sama untuk mengakses layanan kesehatan—termasuk izin berobat, pemeriksaan rutin, dan perawatan lanjutan tanpa stigma.

    2. Peningkatan Kesadaran Supervisor: Atasan perlu dilatih untuk lebih peka terhadap isu gender, agar tidak menganggap keluhan kesehatan dari perempuan sebagai hal yang “sepele” atau “alasan untuk menghindari kerja.”

    3. Evaluasi Ulang Sistem Kerja: Penugasan fisik sebaiknya mempertimbangkan kondisi dan kemampuan individu, bukan didasarkan pada stereotip gender.

    4. Pemberdayaan Perempuan dalam Tim Teknisi: Memberi ruang bagi perempuan untuk bersuara, menyampaikan kendala, dan dilibatkan dalam evaluasi kebijakan kerja teknis agar lebih inklusif.

    Pengalaman ini menjadi pengingat bagi saya bahwa kesetaraan dalam akses layanan kesehatan di tempat kerja adalah bagian dari menciptakan lingkungan yang adil dan sehat untuk semua, tak peduli apa jenis kelaminnya.

    Sekian dan terima kasih

  3. Di wilayah rumah saya ada akses layanan kesehatan sering kali berbeda antara laki-laki dan perempuan. Contohnya kasus di Puskesmas Kecamatan, perempuan hamil harus memeriksakan kandungan secara rutin, tetapi sering terhambat karena jarak fasilitas kesehatan jauh dan keputusan untuk pergi sering bergantung pada izin suami atau keluarga laki-laki. Sementara itu, pihak laki-laki biasanya tidak menghadapi hambatan serupa saat sakit karena dianggap lebih “wajar” jika mereka langsung mencari pengobatan.

    Akhirnya ada dampak pada Individu yang terlibat, yakni pihak perempuan:
    Keterlambatan pemeriksaan kehamilan bisa menyebabkan risiko komplikasi, seperti preeklamsia, anemia, hingga kematian ibu dan bayi.
    Sedangkan Laki-laki:
    Kurangnya edukasi tentang kesehatan reproduksi atau peran suami dalam mendukung kesehatan istri membuat mereka cenderung kurang terlibat dalam menjaga kesehatan keluarga.
    Lalu Keluarga & Masyarakat:
    Ketimpangan ini berimbas pada meningkatnya angka kematian ibu dan bayi, serta rendahnya kualitas kesehatan masyarakat secara umum.

    Pengarusutamaan Gender untuk menangani situasi ini dalam layanan kesehatan seharusnya dilakukan melalui:
    1. Edukasi Kesehatan yang Setara:
    Memberikan penyuluhan bukan hanya untuk ibu hamil, tetapi juga suami dan anggota keluarga lain.
    2. Kebijakan Layanan Kesehatan Inklusif:
    Fasilitas kesehatan perlu memiliki jam layanan fleksibel dan transportasi pendukung untuk perempuan di daerah terpencil.
    3. Pelibatan Laki-laki dalam Program Kesehatan:
    Mengajak suami hadir dalam pemeriksaan kehamilan atau penyuluhan KB agar mereka terlibat aktif.
    4. Pelatihan Tenaga Kesehatan dengan Perspektif Gender:
    Tenaga medis perlu memahami hambatan budaya dan sosial yang dialami perempuan, sehingga bisa memberikan dukungan yang tepat.

  4. Pengalaman Pengamatan Ketimpangan Gender dalam Akses Layanan Kesehatan

    Di lingkungan tempat tinggal saya, sebuah desa kecil di pinggiran kota, saya mengamati sebuah contoh nyata ketimpangan gender dalam akses layanan kesehatan yang menimpa seorang ibu rumah tangga bernama Bu Siti. Beliau adalah wanita berusia sekitar 40-an yang memiliki tiga anak, dan seluruh hidupnya didedikasikan untuk keluarga. Suaminya bekerja sebagai buruh bangunan, dan penghasilan keluarga terbatas.

    Beberapa waktu lalu, Bu Siti mengeluhkan sakit kepala kronis dan gejala tekanan darah tinggi. Namun, ia menunda pergi ke puskesmas dengan alasan “tidak mau merepotkan” dan “uangnya lebih baik untuk anak-anak”. Sementara itu, ketika anak laki-lakinya mengalami demam, ia segera membawanya ke klinik swasta dengan biaya lebih mahal. Hal ini bukan karena Bu Siti tidak peduli pada kesehatannya, tetapi karena budaya setempat cenderung menanamkan bahwa perempuan harus mengorbankan diri demi keluarga. Selain itu, akses ke layanan kesehatan juga lebih terbatas untuk perempuan karena jam buka fasilitas kesehatan berbenturan dengan waktu mereka mengurus rumah tangga.

    Dampak terhadap Individu

    Ketimpangan ini memiliki dampak signifikan. Bu Siti akhirnya mengalami komplikasi hipertensi dan harus menjalani perawatan intensif, yang seharusnya bisa dicegah jika ia mendapat perawatan lebih awal. Kesehatannya menurun, beban ekonomi keluarga bertambah, dan kualitas pengasuhan anak-anaknya ikut terpengaruh. Ini menunjukkan bahwa ketimpangan gender dalam akses kesehatan bukan hanya merugikan individu perempuan, tetapi juga keluarga dan komunitas secara keseluruhan.

    Pengarusutamaan Gender sebagai Solusi

    Untuk mengatasi ketimpangan ini, pendekatan pengarusutamaan gender harus diterapkan secara menyeluruh, antara lain:

    Pendidikan dan Kesadaran Gender: Masyarakat perlu diedukasi bahwa kesehatan perempuan sama pentingnya dengan kesehatan anggota keluarga lainnya. Kampanye kesadaran publik harus menyoroti pentingnya peran perempuan sebagai individu, bukan sekadar pengurus rumah tangga.

    Pelayanan Kesehatan yang Ramah Gender: Puskesmas dan klinik sebaiknya memiliki jam layanan fleksibel, menyediakan konsultasi khusus bagi perempuan, dan memiliki tenaga kesehatan perempuan untuk meningkatkan kenyamanan pasien wanita.

    Kebijakan Inklusif: Pemerintah daerah perlu mengadopsi kebijakan berbasis gender, seperti subsidi kesehatan khusus perempuan miskin atau program deteksi dini penyakit yang menyasar ibu rumah tangga.

    Pemberdayaan Ekonomi Perempuan: Ketika perempuan memiliki kemandirian ekonomi, mereka lebih mampu membuat keputusan tentang kesehatannya sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada suami atau keluarga.

    Kesimpulan
    Ketimpangan gender dalam akses layanan kesehatan merupakan masalah serius yang berakar pada norma sosial dan sistemik. Pengarusutamaan gender bukan hanya soal keadilan, tetapi juga cara strategis untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Jika perempuan memiliki akses setara terhadap kesehatan, maka seluruh masyarakat akan lebih sehat dan produktif.

  5. Annisa nadya azzahra 01230100004

    Sebagai seorang caregiver yang merawat lansia, saya sering menyaksikan secara langsung bagaimana ketimpangan gender memengaruhi akses layanan kesehatan, terutama pada lansia perempuan. Banyak dari lansia perempuan yang saya rawat dulunya adalah ibu rumah tangga seumur hidup, dan karena itu tidak memiliki jaminan kesehatan mandiri atau pensiun seperti laki-laki yang pernah bekerja formal. Hal ini membuat mereka lebih tergantung pada anak-anak atau pasangannya untuk bisa mengakses layanan kesehatan. Sayangnya, ketika pasangan mereka telah meninggal atau anak-anak memiliki keterbatasan ekonomi, kebutuhan medis mereka sering kali terabaikan.

    Sebaliknya, lansia laki-laki cenderung lebih mudah mengakses layanan kesehatan karena mereka lebih sering memiliki pensiun, asuransi, atau tabungan sendiri dari masa kerja mereka. Ini adalah cerminan nyata dari struktur sosial masa lalu yang menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah utama dan perempuan sebagai pengurus rumah tangga, yang berdampak jangka panjang hingga masa tua.

    Ketimpangan ini sangat memengaruhi kesejahteraan fisik dan mental individu yang terlibat. Banyak lansia perempuan yang saya rawat menunjukkan gejala stres, depresi, dan keputusasaan, karena merasa menjadi beban dan tidak mampu merawat diri sendiri secara layak. Dalam beberapa kasus, penyakit mereka terlambat ditangani karena akses terhadap pemeriksaan dan pengobatan yang lambat atau terbatas.

    Pengarusutamaan gender seharusnya diterapkan secara serius untuk mengatasi situasi ini. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

    1. Kebijakan jaminan kesehatan yang inklusif, khususnya untuk perempuan lanjut usia yang tidak memiliki riwayat kerja formal. Negara harus mengakui kontribusi perempuan dalam pekerjaan domestik sebagai bagian dari pembangunan.

    2. Pelatihan tenaga kesehatan dengan perspektif gender, agar mereka memahami kebutuhan berbeda antara pasien laki-laki dan perempuan, serta peka terhadap hambatan sosial yang dialami pasien perempuan.

    3. Peningkatan edukasi gender dalam keluarga, agar perempuan dari generasi sekarang memiliki akses dan kesadaran yang lebih baik terhadap kesehatan mereka, termasuk hak atas layanan kesehatan yang layak.

    4. Pemberdayaan ekonomi bagi perempuan, bahkan sejak usia produktif, agar mereka tidak bergantung secara finansial pada pasangan atau keluarga saat lansia.

    Dengan penerapan pengarusutamaan gender secara menyeluruh, kita tidak hanya meningkatkan kualitas hidup lansia perempuan, tetapi juga menciptakan sistem kesehatan yang lebih adil dan manusiawi bagi semua.

  6. Intan malda komalasari 02230200022
    Saya pernah mengamati ketimpangan gender dalam akses layanan kesehatan mata ketika mengikuti kegiatan pemeriksaan mata di salah satu sekolah dasar inklusi. Saat itu, kami menemukan bahwa anak perempuan lebih sering mengalami keluhan penglihatan kabur, tetapi justru lebih jarang mendapatkan pemeriksaan lanjutan atau kacamata dibandingkan anak laki-laki. Setelah ditelusuri, sebagian orang tua beranggapan bahwa kacamata “tidak cocok untuk anak perempuan” karena dianggap mengurangi penampilan atau membuat mereka terlihat “kurang menarik”.

    Selain itu, beberapa ibu mengaku ragu membawa anak perempuannya ke layanan optometri karena jarak yang jauh dan biaya yang dianggap mahal. Sementara itu, keputusan untuk memeriksakan anak biasanya harus menunggu persetujuan kepala keluarga (ayah), yang tidak selalu memahami pentingnya pemeriksaan mata sejak dini. Akibatnya, anak perempuan lebih lama mengalami gangguan penglihatan yang berdampak pada prestasi belajar dan kepercayaan diri mereka di sekolah.

    Di sisi lain, saya juga melihat bahwa perempuan dewasa — terutama ibu rumah tangga dan lansia — cenderung mengabaikan kesehatan matanya sendiri. Mereka lebih memprioritaskan kebutuhan keluarga, seperti biaya pendidikan anak atau kebutuhan rumah tangga, dibandingkan memeriksakan diri ke klinik mata. Padahal, banyak dari mereka sudah mengeluh mata buram atau sulit membaca tulisan dekat akibat presbiopia, tetapi tetap menunda pemeriksaan karena merasa “tidak penting” atau “nanti saja kalau parah.”
    Dampak Ketimpangan Gender
    Ketimpangan seperti ini berpengaruh besar terhadap kualitas hidup. Anak perempuan yang mengalami gangguan penglihatan tidak terdeteksi sejak dini cenderung kesulitan belajar dan kehilangan motivasi di sekolah. Sementara perempuan dewasa yang tidak mendapatkan layanan kesehatan mata tepat waktu berisiko mengalami penurunan produktivitas, bahkan kehilangan penglihatan permanen karena keterlambatan deteksi penyakit seperti katarak atau glaukoma.

    Situasi ini menunjukkan bahwa faktor sosial dan budaya dapat menjadi penghalang bagi perempuan untuk mengakses layanan kesehatan mata yang seharusnya menjadi hak semua orang.
    Pengarusutamaan Gender sebagai Solusi
    Untuk mengatasi masalah ini, pengarusutamaan gender (PUG) perlu diterapkan dalam program kesehatan mata. Prinsipnya bukan hanya memberikan layanan yang sama bagi laki-laki dan perempuan, tetapi menjamin kesetaraan dalam akses, partisipasi, dan manfaat layanan kesehatan mata.

    Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

    1. Edukasi masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan mata bagi semua kelompok, tanpa memandang gender, termasuk melawan stigma bahwa kacamata mengurangi penampilan perempuan.

    2. Penyuluhan berbasis keluarga, agar ayah maupun ibu memahami pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan pada anak.

    3. Layanan kesehatan mata yang ramah gender dan inklusif, misalnya pemeriksaan gratis di sekolah dan posyandu, serta pemberian kacamata dengan model yang nyaman dan menarik bagi anak perempuan.

    4. Pemberdayaan kader perempuan dan tenaga kesehatan mata, karena perempuan yang terlibat aktif dalam promosi kesehatan dapat menjadi agen perubahan di komunitasnya.
    Kesimpulan
    Ketimpangan gender dalam akses layanan kesehatan mata masih terjadi secara halus, baik melalui norma sosial maupun keterbatasan ekonomi. Dengan menerapkan pengarusutamaan gender dalam setiap kegiatan dan kebijakan kesehatan mata, diharapkan tidak ada lagi perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan. Setiap individu — tanpa memandang gender — berhak memiliki penglihatan yang sehat agar dapat belajar, bekerja, dan berkontribusi secara optimal dalam kehidupannya

  7. Saya pernah mengamati kasus ketimpangan gender dalam akses layanan kesehatan ketika seorang ibu di lingkungan sekitar mengalami demam,mual, sakit ulu hati, sakit kepala namun menolak untuk berobat ke puskesmas karena merasa “seorang ibu harus kuat” tidak perlu ke dokter untuk penyakit ringan, dan merasa harus tetap mengurus rumah dan anak-anak. Dan ia beranggapan bahwa kesehatannya tidak sepenting kebutuhan keluarga, selama masih bisa beraktivitas/bekerja, meskipun kondisinya lemah, sampai akhirnya mengalami dehidrasi berat dan harus dirawat di rumah sakit.

    Dari situ saya menyadari bahwa banyak perempuan, terutama ibu rumah tangga, sering kali menomorduakan kesehatan mereka sendiri karena tuntutan peran di rumah. Pandangan bahwa perempuan harus selalu kuat dan mendahulukan keluarga membuat mereka terlambat mendapatkan perawatan yang seharusnya.

    Menurut saya, perhatian terhadap gender perlu diterapkan dengan cara memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa kesehatan perempuan sama pentingnya dengan kesehatan anggota keluarga lainnya. Dukungan keluarga juga sangat dibutuhkan agar perempuan merasa punya waktu dan ruang untuk menjaga diri. Dengan begitu, tidak ada lagi ibu yang harus menanggung sakit karena merasa tugasnya dan merasa kuat karena ada yang hal lebih penting di rumah daripada kesehatannya sendiri.

  8. Kebetulan di wilayah saya tidak terlihat adanya ketimpangan secara signifikan. Namun, saya pernah mendapatkan cerita dari salah satu rekan saya tentang budaya yang terjadi di daerahnya. Di daerah tersebut, terdapat kebiasaan bahwa perempuan yang sudah beranjak dewasa tidak perlu menempuh pendidikan tinggi, cukup sampai SMA saja. Hanya laki-laki yang diutamakan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

    Alasan yang digunakan adalah bahwa percuma perempuan bersekolah tinggi, karena pada akhirnya mereka akan kembali ke rumah dan menjadi ibu rumah tangga. Kebiasaan dan pola pikir seperti ini sudah turun-temurun, padahal seiring berkembangnya zaman dan meningkatnya pengetahuan, seharusnya kebiasaan dan budaya tersebut dapat diubah atau dikaji ulang agar lebih adil terhadap perempuan. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seharusnya diberikan secara setara, karena pendidikan tidak hanya bermanfaat untuk karier, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup, kemampuan berpikir kritis, serta peran dalam keluarga maupun masyarakat. Dengan demikian, perubahan mindset sangat diperlukan agar perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam mengembangkan potensi dirinya.

  9. Nama : NURDIN
    NPM : 02230200031

    Sebagai petugas puskesmas, jujur, saya sering sekali menemukan kasus-kasus yang memprihatinkan soal ketimpangan gender. Salah satunya, soal pelayanan KB. Dulu, waktu awal-awal saya bekerja, saya sering sekali mendengar celetukan dari bapak-bapak, “KB itu urusan istri, pak. Kita ini yang penting kerja.” Padahal kan KB itu tanggung jawab bersama.

    Kemudian, saya juga menemukan ibu-ibu yang datang ke puskesmas dengan wajah memar, mengatakan jatuh dari kamar mandi, atau tersandung. Tapi dari gestur dan tatapan matanya, saya tahu ada yang tidak beres. Ketika saya coba ajak mengobrol pelan-pelan, baru deh mereka bercerita kalau mereka menjadi korban KDRT. Dan yang membuat sedih, banyak dari mereka yang tidak berani melapor karena takut pada suaminya, atau karena tidak memiliki dukungan dari keluarga.

    Dari situ saya sadar, ketimpangan gender itu bukan hanya soal akses ke layanan kesehatan, tapi juga soal relasi kuasa yang tidak seimbang. Bapak-bapak merasa memiliki hak untuk mengatur tubuh dan kesehatan istrinya, sementara ibu-ibu merasa tidak memiliki pilihan selain menurut.

    Akhirnya, saya coba membuat program penyuluhan yang lebih menyasar ke bapak-bapak. Saya ajak mereka berdiskusi soal kesehatan reproduksi, soal pentingnya KB, soal kesetaraan gender. Awalnya sih banyak yang menyangkal, tapi lama-lama ada juga yang mulai sadar. Saya juga bekerja sama dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memberikan edukasi soal KDRT dan hak-hak perempuan.

    Memang tidak mudah, tapi saya percaya, dengan terus mengedukasi dan menyadarkan masyarakat, kita bisa mengurangi ketimpangan gender dalam akses kesehatan. Pengarusutamaan gender itu penting sekali, agar semua orang, tanpa memandang jenis kelamin, bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil dan setara.

  10. Alya Nadira Nur Ajie
    02230200025

    Waktu saya masih sekolah di salah satu SMP, topik kesehatan reproduksi hampir tidak pernah dibahas secara serius. Kalau pun dibahas, biasanya hanya sepintas dalam pelajaran biologi, itu pun terbatas pada penjelasan anatomi tanpa menyentuh hal-hal penting seperti pubertas, menstruasi yang sehat, hubungan yang setara, atau bagaimana melindungi diri dari kekerasan seksual.

    Saat kelas 8, saya ingat ada salah satu teman perempuan yang pernah mengalami menstruasi di kelas dan diejek oleh beberapa teman laki-laki. Bukan hanya dia merasa malu, tapi guru yang tahu pun tidak menanggapi dengan serius atau memberikan edukasi kepada kelas tentang apa yang sedang terjadi. Akibatnya, banyak dari kami merasa bahwa membicarakan menstruasi adalah hal yang memalukan, padahal itu proses biologis yang wajar.

    Parahnya lagi, tidak ada ruang aman di sekolah untuk bertanya soal perubahan tubuh, emosi saat pubertas, atau cara menjaga kebersihan saat haid. Beberapa teman perempuan bahkan tidak tahu bahwa siklus haid yang tidak teratur bisa jadi tanda masalah kesehatan. Kami lebih sering mendapat informasi dari media sosial atau teman sebaya yang belum tentu benar daripada dari guru atau tenaga kesehatan.

    Dampaknya: Banyak remaja perempuan takut bertanya atau malu mencari bantuan. Topik penting seperti kekerasan seksual, atau batasan tubuh tidak pernah diajarkan secara formal. Remaja perempuan menjadi rentan terhadap pergaulan yang tidak sehat, informasi keliru, bahkan risiko pernikahan dini.

    Melihat pengalaman pribadi ini, saya yakin penting sekali menerapkan pengarusutamaan gender dalam dunia pendidikan dan layanan kesehatan remaja. Sekolah harus aktif menyediakan edukasi reproduksi yang menyeluruh dan ramah gender tidak hanya untuk perempuan, tapi juga untuk laki-laki, agar mereka paham dan bisa saling menghormati. Guru dan staf sekolah perlu dilatih agar bisa menangani isu-isu pubertas dan kekerasan berbasis gender dengan empati dan pengetahuan yang cukup. Puskesmas dan fasilitas kesehatan di sekitar sekolah seharusnya menyediakan layanan konsultasi untuk remaja yang mudah diakses, aman, dan tidak menghakimi. Perlu dibuat ruang diskusi terbuka di sekolah, seperti kelas tambahan atau kegiatan ekstrakurikuler yang membahas kesehatan reproduksi dan hubungan sehat.

  11. Nama :Arianty fera
    NPM : 02230100004
    Di pelayanan homecare saya yaitu mediacare menyediakan perawatan dirumah yang ditangani oleh perawat homecare ,Suatu hari, ada permintaan perawatan untuk seorang laki-laki paruhbaya, seorang pensiunan yang baru pulih dari stroke ringan. sebagainKoordinator homecare, saya menugaskan seorang perawat perempuan, untuk memberikan perawatan rutin di rumah
    Namun ketika perawat Perempuan datang, keluarga pasien terutama anak laki-lakinya menolak.
    dengan beralasan, “Perawat perempuan tidak pantas merawat ayah saya, apalagi memandikan atau memijat. Itu urusan laki-laki.”
    Ia meminta agar diganti perawat laki-laki, meski sebenarnya tim homecare saat itu hanya memiliki satu perawat laki-laki yang jadwalnya penuh.
    Akibatnya, perawatan pasien tertunda selama tiga hari, hingga kondisinya kembali lemah dan harus dibawa lagi ke rumah sakit. Perawat homecare merasa kecewa karena dianggap “tidak pantas” hanya karena ia perempuan, padahal kompetensinya memadai dan sudah bersertifikat.
    Analisis Ketidaksetaraan Gender
    Kasus ini menunjukkan adanya stereotip gender bahwa:
    Perempuan tidak pantas merawat pasien laki-laki (terutama lansia).
    Profesi perawat dianggap mengikuti norma sosial, bukan profesionalisme medis.
    Padahal dalam prinsip pelayanan kesehatan, akses terhadap layanan harus setara tanpa diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, baik terhadap tenaga kesehatan maupun pasien.
    untuk Mengatasi Situasi :
    1. Peningkatan Kapasitas SDM:
    o Melakukan pelatihan gender mainstreaming bagi seluruh tenaga kesehatan agar mereka mampu mengenali dan menolak diskriminasi berbasis gender.
    2. Edukasi Masyarakat dan Keluarga Pasien:
    o Mengadakan sosialisasi kepada keluarga pasien tentang pentingnya menghargai profesionalisme tenaga kesehatan tanpa bias gender.
    o Menjelaskan bahwa layanan homecare berfokus pada kompetensi dan keamanan pasien, bukan pada peran sosial tradisional.

  12. Nama :Arianty fera
    NPM : 02230100004
    Di pelayanan homecare saya yaitu mediacare menyediakan perawatan dirumah yang ditangani oleh perawat homecare ,Suatu hari, ada permintaan perawatan untuk seorang laki-laki paruhbaya, seorang pensiunan yang baru pulih dari stroke ringan. sebagainKoordinator homecare, saya menugaskan seorang perawat perempuan, untuk memberikan perawatan rutin di rumah
    Namun ketika perawat Perempuan datang, keluarga pasien terutama anak laki-lakinya menolak.
    dengan beralasan, “Perawat perempuan tidak pantas merawat ayah saya, apalagi memandikan atau memijat. Itu urusan laki-laki.”
    Ia meminta agar diganti perawat laki-laki, meski sebenarnya tim homecare saat itu hanya memiliki satu perawat laki-laki yang jadwalnya penuh.
    Akibatnya, perawatan pasien tertunda selama tiga hari, hingga kondisinya kembali lemah dan harus dibawa lagi ke rumah sakit. Perawat homecare merasa kecewa karena dianggap “tidak pantas” hanya karena ia perempuan, padahal kompetensinya memadai dan sudah bersertifikat.
    Analisis Ketidaksetaraan Gender
    Kasus ini menunjukkan adanya stereotip gender bahwa:
    Perempuan tidak pantas merawat pasien laki-laki (terutama lansia).
    Profesi perawat dianggap mengikuti norma sosial, bukan profesionalisme medis.
    Padahal dalam prinsip pelayanan kesehatan, akses terhadap layanan harus setara tanpa diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, baik terhadap tenaga kesehatan maupun pasien.
    untuk Mengatasi Situasi :
    1. Peningkatan Kapasitas SDM:
    Melakukan pelatihan gender mainstreaming bagi seluruh tenaga kesehatan agar mereka mampu mengenali dan menolak diskriminasi berbasis gender.
    2. Edukasi Masyarakat dan Keluarga Pasien:
    Mengadakan sosialisasi kepada keluarga pasien tentang pentingnya menghargai profesionalisme tenaga kesehatan tanpa bias gender.
    Menjelaskan bahwa layanan homecare berfokus pada kompetensi dan keamanan pasien, bukan pada peran sosial tradisional.

  13. Nama : Intan Septriana
    NPM : 02230100005

    SAYA mempunyai tetangga sebut saja namany Riki adalah anak laki-laki yang mencintai dunia masak-memasak dia adalah teman anak saya. Di saat teman-temannya sibuk dengan mainan dan olahraga, Riki lebih suka menghabiskan waktu di dapur. Ia sering memegang celemek berwarna-warni, melihat ibunya berkreasi dengan bumbu dan bahan makanan, lalu menirunya dengan semangat.
    Suatu hari, guru Riki di sekolah bertanya, “Mengapa kamu suka sekali memasak? Bukankah itu pekerjaan perempuan?”
    Riki tersenyum. “Sejak kapan memasak identik dengan perempuan, Bu?” tanyanya balik. “Menurut saya, memasak itu sama seperti melukis atau menggambar. Itu adalah seni yang bisa dinikmati siapa saja, laki-laki atau perempuan.”
    Jawaban Riki membuat Ibu Guru terdiam sejenak. Ia teringat film dokumenter yang pernah ia tonton tentang koki-koki terkenal di dunia, sebagian besar adalah laki-laki.
    “Kamu benar, Riki,” kata Ibu Guru akhirnya. “Ibu hanya mengikuti pandangan umum di masyarakat. Tapi, Ibu rasa kamu benar. Apa yang bisa dilakukan perempuan, pasti bisa dilakukan laki-laki juga.”
    Sejak saat itu, Ibu Guru mulai melihat Riki dengan pandangan berbeda. Ia tidak lagi merasa aneh ketika Riki bercerita tentang resep masakan baru yang ia coba, atau ketika ia membawa bekal buatannya sendiri ke sekolah.
    Di rumah, orang tua Riki juga sangat mendukung hobinya. Ayahnya sering membantunya mencari resep di internet dan bahkan ikut mencoba resep-resep baru yang dibuat Riki. Mereka membagi tugas memasak secara merata, sehingga beban pekerjaan dapur tidak hanya ditanggung oleh ibunya.
    “Kamu bisa jadi koki terkenal suatu hari nanti,” kata sang ayah sambil tersenyum.
    Riki merasa sangat senang. Ia sadar bahwa hobinya tidak membuatnya lemah atau berbeda, justru membuatnya unik dan bisa memberikan inspirasi bagi teman-temannya. namun sayang banya temannya yg mengolok- olok riki seperti seorang perempuan sehinga terkadang di panggil bencong.

    untuk mengatasi situasi :
    memberikan pengertian dan pengetahuan bahwa sanya memasak bukanlah hanya tugas seorang perempuan, memasak bisa saja dilakukan oleh laki – laki

  14. Siti Amalina 01250100006

    Di wilayah sekitar apotek tempat saya bekerja, saya mengamati adanya ketimpangan gender dalam layanan Kesehatan. Sebut saja Namanya dengan ibu badut, karena pekerjaan beliau sehari-hari menjadi badut keliling dengan membawa music sambil menggendong anaknya yang masih kecil dan masih ada 4 anaknya lagi. Usia paling besar anak ibu badut sekitar 10tahun dan jarak usia anaknya semuanya terhitung sangat dekat, kami sering menyarankan untuk ibu tersebut menggunakan pil KB karena kasihan dengan anak-anaknya yang masih kecil dan terlihat tidak terurus, namun suami beliau tidak mau untuk istrinya menggunakan pil KB. Kami akhirnya menyarankan untuk suaminya saja menggunakan alat kontrasepsi agar tidak hamil lagi mengingat anaknya yang tidak mendapatkan Pendidikan formal yang layak, namun suaminya tetap menolak dengan alasan “tidak enak”.

    Akibatnya ibu badut sekarang hamil lagi dan suaminya tetap bersantai menunggu istrinya keliling memakai kostum badut sambil menggendong anaknya, suaminya sendiri terkadang bersikap kasar kepada ibu badut. Dari kejadian itu sangat terlihat jika laki-laki tersebut bersikap patriarki terhadap istrinya, menganggap istrinya lemah dan mudah diberdaya, dari Kesehatan ibunya pun sangat kurang karena tidak diberikan jeda untuk menunda kehamilannya.

    Hal yang seharusnya dilakukan yaitu dengan mengedukasi pihak suami juga untuk mau KB juga dan mau ikut serta membantu istri dalam merawat dan mencari nafkah untuk anak-anaknya bisa hidup lebih layak bahkan bisa sekolah formal.

  15. Latifah Ajrani R
    02230200027

    saya pernah mengamati kasus di lingkungan tempat tinggal saya, ada seorang ibu rumah tangga mengalami gejala tekanan darah tinggi, tapi tidak segera memeriksakan diri ke puskesmas karena harus mengurus rumah, anak, dan tidak memiliki uang serta harus meminta izin berobat ke suaminya. tapi, suaminya menganggap keluhannya tidak begitu serius. dan akhirnya menyebabkan kondisi si ibu memburuk dan harus dirawat dirumah sakit dengan biaya yang lebih besar.

    dalam kasus seperti ini menunjukkan bahwa perempuan sering kali menghadapi hambatan akses layanan kesehatan, baik karena faktor ekonomi, peran domestik, maupun dominasi keputusan oleh laki-laki.

    seharusnya pada pengarasutamaan gender, layanan kesehatan dapat memberikan akses yang setara bagi laki-laki dan perempuan, termasuk kemudahan transportasi dan biaya dan mendorong kemandirian perempuan dalam mengambil keputusan kesehatan serta melibatkan masyarakat untuk mengubah norma budaya yang membatasi peran perempuan.

  16. Yudi Dharmawan
    02230200019

    Saya pernah melihat ketimpangan gender dalam akses layanan kesehatan di tempat kerja teman saya, sebuah pabrik yang terdapat karyawan perempuan. Beberapa pekerja perempuan mengeluhkan nyeri haid atau kelelahan, namun mereka jarang diberikan izin untuk istirahat atau berobat ke klinik perusahaan. Sementara itu, ketika pekerja laki-laki mengeluh sakit kepala atau kelelahan, mereka sering kali langsung diberi izin tanpa banyak pertanyaan.

    Hal ini menunjukkan bahwa keluhan kesehatan yang dialami perempuan sering dianggap “biasa” atau tidak serius karena dianggap bagian alami dari kondisi mereka sebagai perempuan. Akibatnya, banyak pekerja perempuan menahan sakit dan produktivitas mereka menurun.

    Untuk mengatasi situasi seperti ini, pengarusutamaan gender (PUG) perlu diterapkan dalam kebijakan perusahaan, terutama dalam penyediaan layanan kesehatan kerja. Manajemen dan petugas medis perlu memiliki pemahaman tentang kebutuhan spesifik kesehatan perempuan, serta memberikan perlakuan yang adil tanpa bias gender. Dengan begitu, perempuan dapat bekerja dengan lebih sehat dan produktif tanpa takut dianggap lemah.

  17. Nama : Abdul Rahman
    NPM : 02230200034
    Jawaban:
    Saya pernah mengamati ketimpangan gender dalam akses layanan kesehatan di lingkungan sekitar tempat tinggal saya. Di salah satu Puskesmas, saya melihat bahwa perempuan—terutama ibu rumah tangga—lebih sering datang untuk memeriksakan kesehatan anak atau mengikuti program imunisasi, sedangkan laki-laki jarang datang untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Banyak laki-laki di lingkungan tersebut beralasan bahwa mereka sibuk bekerja, malu datang ke fasilitas kesehatan, atau merasa bahwa layanan kesehatan lebih ditujukan untuk perempuan dan anak-anak.

    Ketimpangan ini menyebabkan laki-laki cenderung terlambat mendapatkan diagnosis penyakit, terutama penyakit tidak menular seperti hipertensi atau diabetes, karena mereka jarang melakukan pemeriksaan dini. Akibatnya, tingkat kesakitan dan risiko komplikasi pada laki-laki meningkat, sedangkan perempuan memikul beban ganda sebagai pengasuh keluarga dan penanggung jawab kesehatan rumah tangga.

    Seharusnya, pengarusutamaan gender (PUG) diterapkan dalam layanan kesehatan dengan cara:

    1. Menyediakan program kesehatan yang inklusif dan ramah gender, sehingga laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses informasi dan layanan kesehatan.

    2. Meningkatkan edukasi dan kesadaran masyarakat bahwa kesehatan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan perempuan.

    3. Melibatkan laki-laki dalam program promotif dan preventif seperti skrining kesehatan dan penyuluhan, agar partisipasi mereka meningkat.

    4. Melatih tenaga kesehatan agar peka terhadap isu gender, sehingga pelayanan yang diberikan tidak bias dan memperhatikan kebutuhan spesifik setiap kelompok.

    Dengan penerapan PUG secara konsisten, akses layanan kesehatan dapat menjadi lebih adil dan setara, sehingga semua individu—baik laki-laki maupun perempuan—dapat menikmati derajat kesehatan yang optimal tanpa diskriminasi.

  18. Nama : Vaden Ignatius Kapoh
    NPM : 02230200026

    Pengalaman saya di program PTM (penyakit tidak Menular) dimana di dalamnya termasuk program IVA, di kepulauan seribu sendiri masih banyak ibu-ibu yang enggan untuk memeriksakan kesehatan serviksnya ke puskesmas dengan berbagai alasan seperti adanya larangan dari suami, takut terkena kanker serviks, malu dan masih banyak alasan yang lain padahal pemeriksaan ini dilakukan untuk upaya preventiv bagi perempuan untuk mencegah terjadinya kanker serviks.
    Dari sini saya bisa melihat adanya ketimpangan gander dimana dalam mengakses kesehatan itu masih ditentukan oleh suami sebagai pemegang otoritas dalam keluarga Bapak-bapak merasa memiliki hak untuk mengatur tubuh dan kesehatan istrinya, sementara ibu-ibu merasa tidak memiliki pilihan selain menurut
    Dari permasalahan yang kita temui di langan akhirnya dari tim kesehatan Menyusun suatu program dengan lebih melibatkan bapak-bapak dalam penyuluhan terkait pemeriksaan IVA Test dengan berbagai pendekatan baik secara langsung maupun melalui tokoh agama, toko masyarakat dan pemerintah kelurahan
    Memang tidak mudah, tapi saya percaya, dengan terus mengedukasi dan menyadarkan masyarakat, kita bisa mengurangi ketimpangan gender dalam akses kesehatan. Pengarusutamaan gender itu penting sekali, agar semua orang, tanpa memandang jenis kelamin, bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil dan setara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here