Infeksi Menular Seksual (IMS): Memahami, Mencegah, dan Menjaga Kesehatan Reproduksi

18
171

Infeksi Menular Seksual (IMS) atau Sexually Transmitted Infections (STIs) adalah kelompok penyakit yang menular melalui kontak seksual — baik melalui hubungan vaginal, anal, maupun oral.
Penyakit ini mencakup berbagai kondisi seperti herpes, klamidia, human papillomavirus (HPV), gonore, sifilis, dan HIV/AIDS.

IMS dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit.
Walau sebagian besar dapat dicegah dan diobati, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi karena sering kali tidak menunjukkan gejala.

Oleh sebab itu, pemahaman, deteksi dini, dan perilaku seksual yang sehat sangat penting untuk menjaga kesehatan reproduksi dan mencegah penyebaran infeksi ini.

📋 Jenis-Jenis Infeksi Menular Seksual

Berikut adalah beberapa jenis IMS yang umum ditemukan di masyarakat:

Jenis IMSPenyebabDampak Utama
KlamidiaBakteri Chlamydia trachomatisDapat merusak sistem reproduksi, menyebabkan infertilitas.
GonoreBakteri Neisseria gonorrhoeaeMenyerang alat kelamin, rektum, atau tenggorokan
SifilisBakteri Treponema pallidumMenyebabkan luka pada alat kelamin, kerusakan organ jika tidak diobati.
Hepes GenitalVirus Herpes simplex tipe 1 dan 2Menimbulkan luka lepuh dan nyeri pada area genital.
Hepatitis BVirus Hepatitis BMenyerang hati, berisiko menyebabkan kanker hati.
HIV/AIDSVirus HIVMelemahkan sistem imun dan dapat berakibat fatal tanpa terapi.
HPV (Human Papillomavirus)Virus HPV
Dapat menyebabkan kutil kelamin dan kanker serviks.
TrikomoniasisParasit Trichomonas vaginalisMenyebabkan keputihan, gatal, dan nyeri pada alat kelamin.

Cara Penularan IMS

Penularan IMS dapat terjadi melalui berbagai bentuk kontak seksual, bukan hanya penetrasi.
Beberapa jalur penularan yang umum:

  • Hubungan seks vaginal, anal, atau oral tanpa pelindung.
  • Kontak kulit-ke-kulit dengan area yang terinfeksi (misalnya pada herpes atau HPV).
  • Berbagi jarum suntik atau alat medis yang tidak steril.
  • Penularan dari ibu ke bayi selama kehamilan atau proses persalinan.
  • Penggunaan alat bantu seks (sex toys) secara bergantian tanpa kondom baru atau pembersihan menyeluruh.

Catatan penting: IMS tidak menular melalui toilet umum, kolam renang, sprei, atau sentuhan biasa seperti berjabat tangan.

Gejala Umum IMS

Sebagian besar IMS tidak menimbulkan gejala di awal infeksi, namun dapat menyebabkan komplikasi berat jika tidak diobati.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Keputihan tidak normal (berbau, berwarna, atau disertai darah).
  • Luka atau lepuhan pada area genital, anus, atau mulut.
  • Nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Bengkak pada area kelamin atau testis.
  • Rasa gatal atau nyeri di sekitar alat kelamin.
  • Gejala mirip flu (demam, nyeri tubuh, pembengkakan kelenjar).

Jika gejala muncul, segera lakukan pemeriksaan ke tenaga kesehatan. Penundaan pengobatan dapat memperburuk kondisi dan meningkatkan risiko menular ke pasangan.

Pemeriksaan dan Diagnosis

Pemeriksaan IMS dapat dilakukan di:

  • Puskesmas atau klinik kesehatan reproduksi
  • Rumah sakit atau laboratorium kesehatan
  • Klinik kesehatan seksual (sexual health clinics)
  • Tes mandiri dari rumah untuk beberapa jenis IMS

Tenaga kesehatan dapat melakukan:

  • Pemeriksaan fisik pada area genital, anus, atau mulut.
  • Tes laboratorium: usapan cairan, sampel urin, atau darah.
  • Skrining tambahan seperti Pap smear untuk deteksi kanker serviks akibat HPV.

Pengobatan IMS

  • IMS yang disebabkan oleh bakteri dan parasit (seperti sifilis, gonore, klamidia, dan trikomoniasis) dapat disembuhkan dengan antibiotik.
  • IMS akibat virus (seperti herpes, HIV, dan hepatitis B) tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikendalikan dengan obat antivirus.
  • HPV biasanya hilang sendiri, tetapi perlu penanganan jika berkembang menjadi kutil kelamin atau lesi prakanker.
  • Kutu kemaluan dapat diatasi dengan obat topikal atau resep dokter.

Penting: Kedua pasangan seksual harus diperiksa dan diobati bersamaan untuk mencegah penularan ulang.

IMS dan Kehamilan

Beberapa IMS dapat ditularkan dari ibu ke bayi selama kehamilan atau persalinan, menyebabkan:

  • Bayi lahir prematur atau berat badan rendah.
  • Infeksi pada mata atau paru bayi.
  • Risiko kematian janin.
  • Penyakit serius seperti herpes neonatal atau sifilis kongenital.

Oleh karena itu, ibu hamil perlu menjalani skrining IMS secara rutin selama pemeriksaan kehamilan.

encegahan IMS

Langkah-langkah efektif untuk mencegah IMS:

  1. Gunakan kondom setiap kali berhubungan seks.
  2. Lakukan pemeriksaan IMS secara berkala.
  3. Batasi jumlah pasangan seksual.
  4. Hindari penggunaan jarum suntik bersama.
  5. Vaksinasi HPV dan Hepatitis B.
  6. Diskusikan secara terbuka dengan pasangan tentang riwayat dan risiko IMS.
  7. Gunakan PrEP atau PEP (profilaksis HIV) jika berisiko tinggi.
  8. Jika positif HIV, jalani terapi antiretroviral (ART) secara rutin.

Infeksi menular seksual adalah isu kesehatan yang sangat erat kaitannya dengan perilaku, kesadaran, dan pendidikan seksual yang benar.
Meningkatkan literasi seksual, menghapus stigma, dan memperluas akses layanan kesehatan merupakan kunci untuk memutus rantai penularan IMS.

Menjaga kesehatan reproduksi berarti menjaga masa depan. Mari wujudkan perilaku seksual yang sehat, bertanggung jawab, dan penuh kesadaran.

Soal
Mengapa menurutmu stigma terhadap penderita IMS masih sangat kuat di Indonesia?
Apa pengaruhnya terhadap perilaku orang dalam mencari pengobatan, dan bagaimana seharusnya masyarakat bersikap?

Referensi

  • World Health Organization (WHO). Sexually Transmitted Infections Fact Sheet.
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). STD Facts.
  • UNAIDS. Global HIV & STI Reports 2024.
  • Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pengendalian Infeksi Menular Seksual.

18 KOMENTAR

  1. Stigma IMS di indonesia masih sangat kuat karena berbagai faktor, diantaranya kurangnya pengetahuan, nili-nilai budaya dan agama, serta adanya ketakutan dari masyarakat.
    IMS berdampak signifikan pada perilaku seseorang mencari pengobatan, yang sebagian besar dipengaruhi oleh stigma sosial dimana persepsi negatif masyarakat terhadap IMS menyebabkan penderita merasa malu, bersalah dan takut dihakimi. hal ini mendorong mereka untuk menyembunyikan kondisi mereka , dan ada juga sebagian orang yang merasa malu atau takut sehingga mencoba mengobati dirinya sendiri dengan cara yang tidak tepat atau menggunakan obat-obatan tradisional .
    Yang seharusnya di lakukan masyarakat yaitu menghilangkan stigma, memberikan dukungan serta memberikan edukasi kesehatan

  2. Nama : Tia Setia wati
    NPM : 01240500003
    Prodi : S1 Kesmas Ekstensi
    Semester : 3

    Jawaban :
    Stigma terhadap penderita Infeksi Menular Seksual (IMS) di Indonesia masih kuat karena masyarakat sering mengaitkannya dengan perilaku “nakal” atau moral yang buruk, bukan sebagai masalah kesehatan. Akibatnya, banyak orang yang sebenarnya berisiko atau sudah terinfeksi takut memeriksakan diri karena khawatir dihakimi, dipermalukan, atau dikucilkan. Hal ini membuat mereka menunda pengobatan, menyembunyikan kondisi, bahkan menularkan penyakitnya tanpa sadar. Masyarakat seharusnya bersikap lebih terbuka dan memahami bahwa IMS adalah penyakit yang bisa dialami siapa saja dan dapat diobati. Alih-alih menghakimi, kita perlu mendukung orang untuk berani memeriksakan diri, mencari pengobatan tepat, dan melakukan pencegahan demi kesehatan bersama.

  3. Nama : Maya Ainun Nizar
    NPM : 02250300007

    Stigma IMS di indonesia masih sangat kuat karena berbagai faktor, diantaranya Kurangnya pendidikan seksual yang komprehensif. Norma sosial dan nilai agama yang konservatif. kurang pengetahuan tentang cara penularan IMS dan Ketakutan dan diskriminasi.
    Pengaruhnya terhadap perilaku orang dalam mencari pengobatan adalah Menunda atau enggan memeriksakan diri.Mengobati sendiri tanpa diagnosis medis. Banyak yang memilih menggunakan obat bebas atau pengobatan alternati.Meningkatnya penularan IMS. Karena tidak terdeteksi dan tidak diobati secara tepat, penderita bisa menularkan IMS ke orang lain tanpa sadar.
    Sikap yang seharusnya masyarakat lakukan adalah Menghapus stigma dan diskriminasi. Memahami bahwa IMS adalah penyakit medis yang dapat diobati, bukan aib moral. dukasi sejak dini tentang pencegahan IMS, penggunaan kondom, dan pemeriksaan rutin sangat penting. Memberikan dukungan moral dan sosial agar penderita tidak merasa dikucilkan dan mau menjalani pengobatan dan Mendorong keterbukaan dan akses layanan kesehatan.

    Terimakasih

  4. Nama: Adinda Rahma Putri
    NPM: 01240100014
    Prodi: S1-Kesehatan Masyarakat_Ext smt 3

    JAWABAN:
    Stigma terhadap penderita Infeksi Menular Seksual (IMS) di Indonesia memang masih kuat, dan hal ini berdampak besar pada kesehatan masyarakat.
    Ada beberapa faktor utama:
    ⦁ Norma sosial dan budaya yang konservatif
    ⦁ Kurangnya pendidikan dan pemahaman
    ⦁ Pengaruh agama dan nilai moral
    ⦁ Kurangnya layanan kesehatan yang ramah
    Akibat stigma tersebut:
    ⦁ Penderita menunda atau menghindari pengobatan, takut dihakimi atau diketahui orang lain.
    ⦁ Banyak yang memilih pengobatan sendiri (self-medication) atau mencari“alternatif” yang tidak efektif.
    ⦁ Penularan meningkat, karena tanpa diagnosis dan pengobatan yang benar, IMS lebih mudah menyebar ke pasangan lain.
    ⦁ Data kesehatan jadi tidak akurat, karena banyak kasus tidak terlaporkan.
    Masyarakat harus bersikap:
    ⦁ Mengubah cara pandang
    ⦁ Edukasi seksual yang komprehensif
    ⦁ mendukung layanan kesehatan yang inklusif dan rahasia
    ⦁ peran media dan tokoh masyarakat
    Jika masyarakat bisa melihat IMS sebagai isu kesehatan, bukan moralitas, maka orang akan lebih berani mencari pengobatan, penularan bisa ditekan, dan kesehatan publik akan meningkat.

  5. Nama: Cut Wanda Putri S.
    NPM: 01240100010

    Menurut saya, stigma terhadap penderita Infeksi Menular Seksual (IMS) di Indonesia masih sangat kuat karena masyarakat masih menganggap persoalan seksual sebagai hal yang tabu dan berkaitan erat dengan moralitas. IMS sering dicap sebagai “akibat dari perbuatan tidak baik”, sehingga individu yang terinfeksi dianggap salah secara perilaku. Kurangnya pemahaman tentang bagaimana IMS bisa menular, misalnya dari pasangan tetap atau tanpa gejalapun membuat masyarakat cepat menghakimi dibanding memahami aspek kesehatannya. Selain itu, edukasi mengenai kesehatan reproduksi masih sangat terbatas. Orang-orang belum memiliki literasi yang cukup untuk menyadari bahwa IMS adalah penyakit yang bisa dicegah dan diobati, bukan sesuatu yang harus membuat penderitanya dikucilkan. Akibat stigma ini, banyak penderita memilih menyembunyikan kondisi mereka karena takut malu, takut dicap negatif, dan takut mendapatkan perlakuan diskriminatif. Dampaknya sangat serius bagi individu penderita IMS mereka jadi cenderung menunda untuk mencari pengobatan, melakukan self-medication yang tidak tepat, dan enggan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan maupun memberitahu pasangan. Hal ini justru meningkatkan risiko penularan, keterlambatan penanganan, dan timbulnya komplikasi seperti gangguan kesuburan atau infeksi yang semakin parah.
    Masyarakat seharusnya memiliki sikap lebih terbuka dan empati, tidak menjadikan IMS sebagai penilaian moral, tetapi sebagai masalah kesehatan publik yang perlu kita tangani bersama. Lingkungan sosial dan pelayanan kesehatan juga harus memberikan rasa aman, tanpa menghakimi, sehingga penderita merasa berani untuk memeriksakan diri dan mendapatkan penanganan yang tepat. Dengan mengurangi stigma, kita bukan hanya melindungi penderita, tetapi juga menjaga kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

  6. Nama : C. Maharani Putri
    NPM : 02203500001
    S1 EKS RPL

    Mengapa menurutmu stigma terhadap penderita IMS masih sangat kuat di Indonesia?
    Apa pengaruhnya terhadap perilaku orang dalam mencari pengobatan, dan bagaimana seharusnya masyarakat bersikap?

    Jawab : Penyebab Stigma IMS masih sangat kuat karena dipengaruhi oleh sosial budaya yang melekat di Indonesia dan juga indonesia merupakan negagara yang menganut keagaamaan yang cukup kuat sehingga ikut mempengaruhi pola pikir dan perspektif masyarakat mengenai IMS.
    sehingga hal ini menjadikan pengaruh masyarakat cukup terlihat terhadap kasus IMS. Yang mana bila ada salah satu masyarakat terjangkit IMS maka sudut pandang yang cukup negatif pun menyebar di kalangan masyarakat sehingga dapat menyulitkan penderita mendapatkan pengobatan terutama untuk wilayah terpencil.
    Seharusnya yang dilakukan oleh masyarakat adalah membuka diri terhadap informasi mengenai kesehatan yang di edukasi oleh nakes sehingga dapat mengubah stigma negatif mengenai IMS

  7. Nama : Syamsul Bakri
    NPM : 01240100016
    Prodi : S1 Kesehatan Masyarakat

    Jawaban :
    Menurut saya, stigma terhadap penderita Infeksi Menular Seksual (IMS) masih sangat kuat di Indonesia karena masyarakat cenderung mengaitkan penyakit ini dengan perilaku yang dianggap “tidak bermoral”, seperti hubungan seksual di luar nikah. Pandangan tersebut muncul karena faktor budaya, norma agama, serta kurangnya pengetahuan tentang bagaimana IMS sebenarnya dapat menular. Akibatnya, penderita sering dijauhi, dipandang negatif, bahkan enggan terbuka mengenai kondisinya.

    Stigma ini sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang dalam mencari pengobatan. Banyak orang yang akhirnya menunda atau bahkan tidak mau berobat karena takut diketahui oleh keluarga atau masyarakat. Padahal, penundaan pengobatan justru bisa memperparah kondisi, meningkatkan risiko penularan, dan menambah beban kesehatan masyarakat.

    Sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh masyarakat adalah lebih terbuka dan empatik. Penderita IMS perlu dipandang sebagai orang yang membutuhkan dukungan, bukan dijauhi atau disalahkan. Edukasi kesehatan seksual yang benar juga perlu terus disosialisasikan agar masyarakat memahami bahwa IMS dapat dicegah dan diobati, serta tidak hanya berkaitan dengan perilaku menyimpang. Dengan sikap yang lebih bijak dan berempati, stigma bisa berkurang dan penderita lebih berani untuk mencari pengobatan.

  8. Nama : Angga Ardiansyah
    NPM : 02203500003
    S1 EKS RPL
    1. Stigma terhadap penderita IMS di Indonesia masih kuat karena faktor budaya dan moral yang konservatif, kurangnya edukasi seksual yang komprehensif, serta pandangan masyarakat yang masih mengaitkan IMS dengan perilaku “tidak bermoral.” Selain itu, layanan kesehatan yang belum sepenuhnya ramah dan pemberitaan media yang cenderung negatif juga memperkuat diskriminasi terhadap penderita.
    2. Stigma membuat banyak orang yang terinfeksi IMS merasa malu, takut dihakimi, dan akhirnya enggan mencari pengobatan atau memeriksakan diri, sehingga penyakit bisa menyebar dan memburuk.
    Masyarakat seharusnya bersikap lebih terbuka, tidak menghakimi, serta melihat IMS sebagai masalah kesehatan, bukan moral, agar penderita merasa aman untuk berobat dan mendapatkan dukungan yang layak.

  9. Nama : Angga Ardiansyah
    NPM : 02250300005
    S1 EKS RPL
    1. Stigma terhadap penderita IMS di Indonesia masih kuat karena faktor budaya dan moral yang konservatif, kurangnya edukasi seksual yang komprehensif, serta pandangan masyarakat yang masih mengaitkan IMS dengan perilaku “tidak bermoral.” Selain itu, layanan kesehatan yang belum sepenuhnya ramah dan pemberitaan media yang cenderung negatif juga memperkuat diskriminasi terhadap penderita.
    2. Stigma membuat banyak orang yang terinfeksi IMS merasa malu, takut dihakimi, dan akhirnya enggan mencari pengobatan atau memeriksakan diri, sehingga penyakit bisa menyebar dan memburuk.
    Masyarakat seharusnya bersikap lebih terbuka, tidak menghakimi, serta melihat IMS sebagai masalah kesehatan, bukan moral, agar penderita merasa aman untuk berobat dan mendapatkan dukungan yang laya

  10. Nama : Shintia Puspita Sari
    NPM : 01240100005

    Soal :
    Mengapa menurutmu stigma terhadap penderita IMS masih sangat kuat di Indonesia?
    Apa pengaruhnya terhadap perilaku orang dalam mencari pengobatan, dan bagaimana seharusnya masyarakat bersikap?

    Jawaban :
    Menurut saya, stigma terhadap penderita Infeksi Menular Seksual (IMS) di Indonesia masih sangat kuat karena masyarakat sering kali memandang penyakit ini dari sisi moral dan bukan dari perspektif kesehatan. Banyak orang masih menganggap bahwa IMS hanya terjadi pada individu dengan perilaku “menyimpang”, padahal faktanya siapa pun bisa terinfeksi tanpa memandang latar belakang. Kurangnya edukasi seks yang komprehensif dan masih tertutupnya pembahasan tentang kesehatan reproduksi membuat masyarakat salah paham dan cenderung menghakimi. Akibat stigma tersebut, penderita sering merasa malu, takut, bahkan enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan karena khawatir akan dicemooh atau dijauhi. Hal ini tentu berdampak buruk karena penundaan pengobatan bisa memperparah kondisi dan meningkatkan risiko penularan kepada orang lain. Menurut saya, masyarakat perlu lebih bijak dan berempati dalam menyikapi hal ini, dengan melihat IMS sebagai masalah medis yang membutuhkan penanganan profesional, bukan sebagai aib. Edukasi yang terbuka dan berbasis pengetahuan sangat penting agar kesadaran tentang kesehatan reproduksi meningkat, stigma dapat dikurangi, dan setiap individu merasa aman serta didukung untuk mencari pengobatan tanpa rasa takut atau malu.
    Dampak dari stigma ini sangat besar terhadap perilaku masyarakat dalam mencari pengobatan. Banyak orang yang akhirnya enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan karena takut dicap atau dihakimi. Hal ini membuat penyakit sulit terdeteksi sejak dini dan berpotensi menular lebih luas. Padahal, dengan pengobatan yang tepat, IMS bisa dikendalikan dan disembuhkan.

  11. Nama : Dina Rahmawati
    NPM : 01240100009
    Prodi : S1 Kesehatan Masyarakat

    Mengapa menurutmu stigma terhadap penderita IMS masih sangat kuat di Indonesia?
    Apa pengaruhnya terhadap perilaku orang dalam mencari pengobatan, dan bagaimana seharusnya masyarakat bersikap?

    Jawaban :
    Menurut saya, stigma terhadap penderita IMS di Indonesia masih sangat tinggi karena banyak masyarakat yang masih menilai penyakit ini sebagai akibat dari perilaku yang dianggap menyimpang secara moral, seperti hubungan di luar pernikahan. Pandangan negatif tersebut semakin kuat karena kurangnya pemahaman masyarakat bahw IMS juga bisa menular melalui cara lain, misalnya transfusi darah atau dari ibu ke bayinya. Akibatnya, banyak penderita merasa malu, takut dijauhi, dan memilih untuk tidak mencari pengobatan, sehingga penyakit dapat semakin parah dan semakan besar risiko menular ke orang lain.

    Oleh karena itu, masyarakat seharusnya memiliki pandangan yang lebih terbuka dan tidak menghakimi penderita IMS. Mereka perlu diperlakukan sebagai pasien yang membutuhkan perawatan, bukan sebagai orang yang harus disalahkan. Dukungan sosial, jaminan kerahasiaan, serta peningkatan edukasi tentang kesehatan reproduksi sangat penting agar stigma dapat berkurang. Dengan empati dan pengetahuan yang tepat, upaya pencegahan dan penanganan IMS di Indonesia dapat berjalan lebih efektif.

  12. Nama : Fahrul Efriansyah
    NPM : 02250300006
    Prodi : RPL S1 Kesehatan Masyarakat

    1. Menurut saya ,Stigma terhadap penderita IMS di Indonesia masih kuat karena faktor budaya dan moral yang konservatif, kurangnya edukasi seksual yang komprehensif, serta pandangan masyarakat yang masih mengaitkan IMS dengan perilaku “tidak bermoral.” Selain itu, layanan kesehatan yang belum sepenuhnya ramah dan pemberitaan media yang cenderung negatif juga memperkuat diskriminasi terhadap penderita.
    2. Pengaruh dari Stigma membuat banyak orang yang terinfeksi IMS merasa malu, takut dihakimi, dan akhirnya enggan mencari pengobatan atau memeriksakan diri, sehingga penyakit bisa menyebar dan memburuk.
    Masyarakat seharusnya bersikap lebih terbuka, tidak menghakimi, serta melihat IMS sebagai masalah kesehatan, bukan moral, agar penderita merasa aman untuk berobat dan mendapatkan dukungan yang layak.

    Terima Kasih BU

  13. Nama : Sinta Jamilah
    Npm : 01240100018
    Prodi : kesmas

    Jawaban : menurut saya stigma terhadap penderita infeksi menular seksual masih sangat kuat di Indonesia karena masyarakat sering mengaitkan penyakit ini dengan perilaku yang dianggap tidak bermoral seperti berganti ganti pasangan atau seks di luar nikah. Selain itu kurangnya pengetahuan tentang IMS membuat banyak orang menganggap penyakit ini memalukan dan menular hanya lewat hubungan seksual padahal bisa juga karna faktor medis lain seperti transfusi darah atau dari ibu ke bayi. Akibat stigma ini banyak penderita takut dan malu untuk memeriksa diri atau berobat, karena khawatir akan dihakimi, dijauhi, atau dipandang buruk oleh orang lain, hal ini membuat mereka menunda pengobatan sehingga penyakitnya bisa semakin parah dan berisiko menularkan ke orang lain, masyarakat seharusnya bersikap lebih terbuka, empatik, dan tidak menghakimi. Kita perlu melihat IMS sebagai masalah kesehatan bukan masalah moral. Edukasi dan pemahaman yang benar tentang IMS harus di tingkatkan agar masyarakat tahu cara pengobatan dan pentingnya pengobatan dini.

  14. Nama : Chelsea Sifa Tri Atmaja
    NPM : 02250300003
    RPL S1 Ekstensi

    1. Pertama, kurangnya pendidikan dan literasi seksual menyebabkan masyarakat memandang IMS sebagai akibat dari perilaku “tidak bermoral” atau “aib,” bukan sebagai masalah kesehatan.
    Kedua, norma sosial dan agama yang konservatif membuat pembicaraan tentang seksualitas dianggap tabu, sehingga penderita IMS cenderung disalahkan dan dijauhi.
    Ketiga, minimnya informasi medis yang benar di masyarakat menyebabkan banyak orang salah paham misalnya mengira IMS hanya menular pada orang tertentu (seperti pekerja seks atau pengguna narkoba), padahal siapa pun bisa tertular.
    2. Akibat stigma tersebut, banyak penderita IMS takut mencari pengobatan karena khawatir akan dihakimi atau dipermalukan, baik oleh tenaga kesehatan maupun lingkungan sekitar.
    Mereka sering menyembunyikan gejala, menunda pemeriksaan, atau mengobati diri sendiri, yang justru memperburuk infeksi dan meningkatkan risiko penularan ke orang lain. Sikap yang seharusnya dikembangkan masyarakat adalah empati dan pemahaman bahwa IMS adalah penyakit yang bisa diobati dan dicegah, bukan aib.

  15. Nama : Anderias Saudila
    NPM. : 01240100017
    Prodi : S1 Kesehatan Masyarakat

    Stigma terhadap penderita Infeksi Menular Seksual (IMS) di Indonesia masih kuat karena pengaruh nilai budaya dan moral yang konservatif, minimnya edukasi seksual, serta anggapan bahwa IMS selalu terkait dengan perilaku “tidak bermoral.” Pandangan ini membuat penderita sering merasa malu, takut dikucilkan, dan akhirnya enggan mencari pengobatan di fasilitas kesehatan resmi. Akibatnya, banyak kasus IMS yang tidak terdeteksi atau tidak diobati dengan benar, sehingga meningkatkan risiko penularan dan memperburuk kondisi kesehatan penderita. Masyarakat seharusnya bersikap lebih terbuka dan empatik, memahami bahwa IMS adalah masalah medis yang bisa dialami siapa saja, bukan aib moral. Dengan meningkatkan edukasi kesehatan seksual, menjaga kerahasiaan pasien, dan menghapus stigma sosial, upaya pencegahan serta pengobatan IMS dapat menjadi lebih efektif dan manusiawi.

  16. Nama : Vira Julia
    Npm : 01240100001
    Prodi : S1 Kesehatan Masyarakat Ekstensi Smt 3

    Stigma terhadap penderita Infeksi Menular Seksual (IMS) masih sangat kuat di Indonesia karena sebagian besar masyarakat masih memiliki pandangan negatif terhadap penyakit ini. Banyak orang menganggap bahwa IMS hanya diderita oleh orang yang memiliki perilaku “nakal” atau tidak bermoral, seperti berganti-ganti pasangan. Padahal, kenyataannya IMS bisa menular kepada siapa saja, termasuk pasangan suami istri, karena berbagai faktor seperti kurangnya edukasi, penggunaan alat kontrasepsi yang tidak tepat, atau ketidaktahuan tentang cara penularannya.
    Selain itu, kurangnya pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi di sekolah maupun di rumah membuat masyarakat tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang IMS. Akibatnya, muncul rasa takut, malu, dan salah paham terhadap penderita. Media dan lingkungan sosial juga kadang memperkuat stigma dengan menggambarkan penderita IMS secara negatif.
    Dampaknya, banyak orang yang sebenarnya memiliki gejala IMS memilih untuk diam dan tidak berobat karena takut diketahui orang lain. Mereka khawatir akan dihakimi, dipandang rendah, atau dikucilkan oleh keluarga dan masyarakat. Kondisi ini berisiko besar karena infeksi bisa semakin parah, menimbulkan komplikasi, bahkan menyebar ke orang lain tanpa disadari.
    Seharusnya, masyarakat bersikap lebih bijak dan empati terhadap penderita IMS. IMS adalah penyakit yang bisa disembuhkan jika ditangani dengan tepat, bukan aib yang harus disembunyikan. Kita perlu menciptakan lingkungan yang mendukung, di mana orang merasa aman untuk memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan tanpa rasa takut.
    Pendidikan kesehatan reproduksi juga harus ditingkatkan sejak dini agar masyarakat memahami cara pencegahan dan penularan IMS dengan benar. Dengan pengetahuan yang cukup, stigma bisa berkurang, dan penderita dapat memperoleh perawatan yang mereka butuhkan tanpa diskriminasi.

  17. Nama : Samuel Siregar
    NPM : 02250300009
    Prodi : S1 Kesehatan Masyarakat Ekstensi / RPL

    Soal
    Mengapa menurutmu stigma terhadap penderita IMS masih sangat kuat di Indonesia?
    Apa pengaruhnya terhadap perilaku orang dalam mencari pengobatan, dan bagaimana seharusnya masyarakat bersikap?

    Jawab;
    Stigma terhadap penderita Infeksi Menular Seksual (IMS) di Indonesia masih cukup kuat karena masyarakat cenderung menilai penyakit ini dari sisi moral, bukan dari sisi kesehatan.
    Di Masyarakat Indonesia, cenderung menganggap IMS sebagai akibat dari perilaku seksual yang “tidak pantas”, sehingga penderita sering dipandang negatif dan dikucilkan. Padahal, menurut Kementerian Kesehatan RI (2022), IMS adalah masalah kesehatan masyarakat yang bisa menimpa siapa saja dan perlu ditangani secara medis, bukan dengan penghakiman sosial.
    Stigma ini berdampak pada perilaku penderita yang menjadi enggan memeriksakan diri atau mencari pengobatan karena takut diketahui orang lain dan akibatnya, infeksi sering terlambat ditangani dan berpotensi menular ke orang lain.
    Sesuai rekomendasi WHO (2021), masyarakat perlu meningkatkan literasi kesehatan reproduksi dan membangun empati terhadap penderita IMS. Dengan cara ini, kasus IMS dapat dicegah dan ditangani lebih.
    Menurut saya, masyarakat seharusnya lebih terbuka dan empatik. Kita perlu melihat IMS sebagai masalah kesehatan yang bisa dicegah dan diobati, bukan sebagai aib. Edukasi tentang kesehatan reproduksi harus diperkuat agar orang lebih paham dan tidak lagi menstigma penderita IMS.

    Terima kasih.

    Salam.

  18. 1. Mengapa Stigma Masih Kuat
    a. IMS sering dikaitkan dengan moralitas dan “perilaku menyimpang”
    Dalam banyak pandangan masyarakat, IMS dianggap sebagai akibat dari perilaku seksual di luar norma—misalnya seks di luar nikah. Karena itu, penderita sering diasumsikan “bersalah”, bukan sekadar sakit.
    b. Kurangnya edukasi seksual yang komprehensif
    Pendidikan seks sering dianggap tabu. Banyak orang hanya tahu sedikit tentang IMS, misalnya hanya HIV. Akibatnya, IMS dipandang sangat menakutkan atau memalukan, padahal banyak yang bisa disembuhkan bila diobati sejak awal.
    c. Informasi keliru dan stereotipe media
    Media kadang menggambarkan IMS dengan cara yang menakutkan atau menempelkan label negatif pada kelompok tertentu (misalnya pekerja seks atau komunitas tertentu), sehingga stigma makin menguat.

    2. Pengaruh Stigma terhadap Perilaku Mencari Pengobatan
    Stigma membuat penderita:
    Takut diketahui orang, sehingga menunda mencari pengobatan.
    Mengobati sendiri (self-medication) dengan obat bebas atau obat yang belum tentu tepat.
    Pergi ke tempat pengobatan yang tidak resmi karena merasa lebih “tidak dihakimi”.
    Membiarkan infeksi berlanjut, yang akhirnya memperparah kondisi dan dapat menularkan ke orang lain.
    Dengan kata lain, stigma tidak hanya menyakiti mental penderita, tetapi juga membahayakan kesehatan masyarakat secara keseluruhan karena mencegah deteksi dan penanganan dini.

    3. Bagaimana Masyarakat Seharusnya Bersikap
    a. Mengganti perspektif dari “menghakimi” menjadi “peduli kesehatan”
    IMS adalah penyakit, bukan cerminan nilai moral seseorang. Sakit harus ditangani, bukan dihukum.
    b. Edukasi kesehatan seksual secara terbuka
    Pendidikan mengenai cara penularan, pencegahan, dan pengobatan harus dibahas secara wajar—di sekolah, keluarga, dan komunitas.
    c. Menggunakan bahasa yang tidak menghakimi
    Misalnya, gunakan istilah “orang dengan IMS” bukan “pendosa / nakal / kotor”. Pilihan kata berpengaruh pada cara kita memandang orang lain.
    d. Mendukung fasilitas layanan yang ramah dan menjaga kerahasiaan
    Semakin aman dan nyaman seseorang mencari pengobatan, semakin cepat pula mereka dirawat dan mencegah penularan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini