Apa itu MERS?
Middle East Respiratory Syndrome, atau MERS, adalah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus corona jenis baru yang sebelumnya belum pernah menginfeksi manusia. MERS pertama kali diketahui pada manusia di Yordania pada April 2012 dan dilaporkan secara resmi di Arab Saudi pada September 2012. Virus ini menyebabkan infeksi pernapasan akut, yang dapat berkisar dari gejala ringan hingga parah, bahkan mengakibatkan kematian. Sampai saat ini, semua kasus MERS berhubungan dengan riwayat perjalanan atau tinggal di Semenanjung Arab.
Situasi MERS di Indonesia
Di Indonesia, sejak 2013 hingga 2020 tercatat 575 kasus suspek MERS. Namun, hasil laboratorium menunjukkan bahwa 568 kasus adalah negatif, dan 7 kasus lainnya tidak dapat diambil spesimen. Hingga kini, Indonesia belum melaporkan adanya kasus konfirmasi MERS-CoV, meskipun mobilitas tinggi menuju negara Timur Tengah membuat risiko importasi tetap ada.
Situasi MERS Secara Global
Secara global, hingga Agustus 2022 tercatat 2.591 kasus konfirmasi MERS dengan tingkat kematian yang tinggi, yaitu 34,5% atau 894 kematian. Arab Saudi menjadi negara dengan jumlah kasus terbesar, mencapai 2.184 kasus dan 813 kematian (CFR: 37,2%). Wabah terbesar di luar Semenanjung Arab terjadi di Korea Selatan pada 2015, yang menginfeksi 186 orang dan menyebabkan 38 kematian.
Gejala dan Masa Inkubasi MERS
Gejala umum MERS meliputi demam, batuk, dan sesak napas. Masa inkubasi penyakit ini biasanya sekitar 5-6 hari, meskipun dapat bervariasi antara 2 hingga 14 hari. Sebagian besar pasien MERS mengalami sindrom pernapasan akut yang parah, dengan komplikasi seperti pneumonia dan gagal ginjal. Selain itu, pasien yang memiliki komorbid seperti diabetes, penyakit jantung, dan kondisi kronis lainnya lebih berisiko mengalami gejala yang berat.
Bagaimana MERS Menular?
Penularan MERS terjadi melalui droplet atau percikan yang keluar saat batuk atau bersin. Namun, penularan dari manusia ke manusia masih terbatas dan terutama terjadi di fasilitas kesehatan. Unta dromedaris diketahui menjadi reservoir utama dan sumber penularan dari hewan ke manusia, khususnya di negara-negara Timur Tengah.
Upaya Pencegahan MERS bagi Masyarakat Umum
Langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi risiko penularan MERS meliputi:
- Menggunakan masker saat berada di keramaian atau jika sedang sakit.
- Menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan secara rutin.
- Menghindari kontak langsung dengan produk hewani mentah atau setengah matang, terutama yang berasal dari unta.
- Menjaga jarak dengan orang sakit, terutama saat berada di kawasan Timur Tengah.
- Menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang tidak bersih.
Pencegahan untuk Tenaga Kesehatan
Untuk mencegah penyebaran di fasilitas kesehatan, diperlukan:
- Identifikasi dini pasien dengan gejala ISPA atau penyakit serupa flu.
- Pengendalian lingkungan, termasuk menjaga ventilasi yang memadai dan kebersihan fasilitas kesehatan.
- Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai risiko paparan, seperti masker, sarung tangan, dan pelindung mata.
Potensi Risiko Penyebaran di Indonesia
Indonesia memiliki risiko importasi kasus MERS karena tingginya mobilitas ke negara Timur Tengah, seperti untuk tujuan ibadah haji dan umrah. Namun, risiko penyebaran lokal rendah karena hewan yang membawa virus MERS tidak ditemukan di Indonesia. Meski begitu, fasilitas kesehatan yang belum sepenuhnya memadai dan kurangnya kepatuhan dalam menggunakan APD dapat meningkatkan risiko penularan dari kasus impor.
MERS adalah penyakit yang patut diwaspadai, terutama bagi mereka yang sering bepergian ke Timur Tengah. Langkah pencegahan di fasilitas kesehatan dan kesadaran masyarakat sangat penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Penggunaan masker, menjaga kebersihan tangan, dan penghindaran kontak dengan produk hewani mentah merupakan beberapa upaya yang dapat membantu meminimalkan risiko infeksi.




