Pengantar
Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga wahana ekspresi keindahan, pemikiran, dan perasaan manusia. Dalam dunia sastra, bahasa memperoleh fungsi artistik yang tidak sekadar menyampaikan informasi, melainkan membentuk pengalaman estetik. Bahasa sastra memperlihatkan keragaman yang khas, menjelma dalam metafora, simbol, ironi, citraan, dan berbagai perangkat gaya bahasa (stilistika) yang membuat karya sastra berbeda dari tulisan biasa.
1. Ciri-ciri Bahasa Sastra
Bahasa sastra memiliki sejumlah ciri khas:
- Konotatif, tidak hanya bermakna harfiah tetapi juga simbolik.
- Figuratif, menggunakan majas atau gaya bahasa seperti metafora, personifikasi, hiperbola, dan sebagainya.
- Estetis, memperhatikan keindahan bunyi, ritme, dan susunan kata.
- Ambiguitas kreatif, membuka banyak kemungkinan tafsir.
- Subjektif dan ekspresif, menonjolkan emosi dan sudut pandang pengarang.
2. Ragam Bahasa Sastra Berdasarkan Genre
- Puisi: cenderung padat, musikal, dan penuh simbolik. Misalnya: “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana” (Sapardi Djoko Damono).
- Prosa fiksi (cerpen/novel): mengalir naratif, dengan dialog dan deskripsi mendalam.
- Drama: dialogis, langsung mencerminkan karakter tokoh melalui tuturan langsung.
3. Fungsi Ragam Bahasa Sastra
- Menggugah emosi dan imajinasi pembaca
- Menghadirkan kritik sosial secara estetis
- Menciptakan pengalaman puitik dan reflektif
- Mewakili budaya, sejarah, dan identitas masyarakat
4. Bahasa Sastra dan Realitas Sosial
Bahasa sastra sering merefleksikan atau justru menantang norma dan wacana sosial yang dominan. Dalam banyak kasus, karya sastra menjadi alat perlawanan simbolik terhadap ketidakadilan, patriarki, kolonialisme, atau isu-isu lingkungan.
Contoh: Novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli mengkritik adat yang mengekang perempuan, melalui kisah cinta tragis.
5. Tantangan dalam Menafsirkan Bahasa Sastra
Karena bersifat tidak langsung dan sering penuh makna tersembunyi, mahasiswa perlu membekali diri dengan kepekaan bahasa dan pemahaman konteks budaya untuk menginterpretasikan teks sastra. Tafsir bisa beragam dan sah sejauh didukung oleh analisis yang logis dan kontekstual.
Soal Esai untuk Mahasiswa
1. Ceritakan pengalaman pribadi Anda saat membaca salah satu karya sastra (puisi, cerpen, atau novel) yang memiliki bahasa indah atau sulit dipahami. Apa kesan yang Anda rasakan, dan bagaimana bahasa dalam karya tersebut memengaruhi pemahaman Anda terhadap pesan cerita?





Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah saat membaca puisi karya Sapardi Djoko Damono, khususnya puisi “Hujan Bulan Juni.” Puisi ini menggunakan bahasa yang indah dan penuh metafora, menciptakan suasana yang mendalam dan mendayu-dayu.
Saat membaca, saya merasakan keindahan dalam setiap baitnya, meski beberapa ungkapan terasa sulit dipahami pada awalnya. Misalnya, penggunaan kata-kata yang menggambarkan hujan dan bulan juni sebagai simbol kebahagiaan dan kerinduan membuat saya merenung. Bahasa yang puitis ini tidak hanya menyampaikan emosi, tetapi juga membangkitkan imajinasi saya tentang cinta dan kehilangan.
Meskipun beberapa frasa tampak kompleks, proses memahami makna di balik kata-kata tersebut malah memperdalam pengalaman membaca saya. Saya merasa diajak untuk meresapi setiap nuansa yang ada, dan akhirnya, pesan tentang indahnya cinta meskipun penuh tantangan menjadi sangat jelas. Bahasa yang indah dalam puisi ini berhasil menyentuh hati saya dan membuatnya tetap teringat hingga sekarang.
Saya pernah membaca cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis saat duduk di bangku SMA. Awalnya saya tertarik karena judulnya yang puitis dan penuh tanda tanya. Namun ketika mulai membaca, saya cukup kesulitan memahami bahasa dan gaya penulisan yang digunakan. Cerpen ini menggunakan bahasa Indonesia lama yang tidak biasa saya temui, dan gaya bertuturnya mengandung simbol-simbol serta ironi yang halus.
Meski sulit dipahami pada awalnya, justru keindahan bahasanya membuat saya penasaran dan tertantang untuk terus membaca. Saya jadi belajar untuk membaca lebih perlahan, mencoba merenungi makna setiap kalimat, dan bahkan mencari referensi tambahan untuk memahami konteksnya. Setelah saya pahami sepenuhnya, cerpen ini memberikan kesan yang sangat mendalam—tentang kemunafikan sosial dan pentingnya berbuat kebaikan secara nyata, bukan hanya lewat doa atau simbol agama.
Bahasa yang indah namun rumit itu ternyata menjadi bagian penting dari cara penulis menyampaikan kritik sosial. Karena gaya bahasanya tidak langsung dan penuh kiasan, saya merasa lebih “terlibat” dalam menemukan makna cerita, bukan hanya sekadar menjadi pembaca pasif.
kemungkinan dari segi bahasa ada perbedaan dari puisi, cerpen atau novel ada yang menggunakan bahasa sehari-hari bahkan ada yang masih menggunakan bahasa tempo dulu, ada juga yang menggunakan bahasa sangat puitis dan penuh dengan kata-kata yang tidak sering saya temui sehari-hari. Kadang saya harus membaca bagian tertentu berkali-kali agar mengerti maksudnya. Namun, karena bahasanya itu, saya jadi merasa lebih dihanyutkan dalam suasana cerita atau perasaan yang ingin disampaikan penulis.
Pengalaman Membaca Novel “Saman” Karya Ayu Utami
Pertama kali saya baca novel Saman karya Ayu Utami, rasanya berbeda banget dari novel-novel yang pernah saya baca sebelumnya.
Bahasa dalam novel ini benar-benar unik, bukan hanya puitis dan penuh metafora, tapi juga padat dengan simbol dan alur cerita yang tidak berurutan. Di awal baca, saya agak bingung karena ceritanya terkadang beralih dari satu sudut pandang ke sudut pandang lain, bahkan melompat waktu tanpa ada penjelasan yang jelas.
Namun, itulah keindahan dan tantangannya.
Bahasa yang digunakan Ayu Utami sangat berani dan indah, memadukan antara gaya sastra klasik dengan gaya modern. Banyak kalimatnya membutuhkan saya baca ulang untuk memahami artinya, terutama ketika ia menyampaikan isu-isu sosial, politik, dan seksualitas secara simbolik.
Rasanya campur aduk, sekaligus terkesan.
Bahasa dalam novel ini membuat saya tidak bisa baca sekilas saja, harus benar-benar merasakannya dan memahami setiap kata. Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa keindahan sebuah sastra tidak hanya ada di ceritanya, tapi juga dalam cara penyampainya dan pilihan bahasanya. Novel Saman mengajarkan saya untuk lebih menghargai arti di balik kata-kata, dan bagaimana bahasa bisa menjadi alat yang sangat kuat untuk menyampaikan kritik sosial secara halus namun tajam.
Saya pernah membaca novel Wandering Star karya J.M.G. Le Clézio dan menurut saya, ini salah satu bacaan yang paling berkesan. Secara bahasa, novel ini cukup menantang karena gaya penulisannya cenderung puitis dan panjang-panjang. Banyak bagian yang terasa lambat, tapi justru itu yang bikin saya mikir lebih dalam. Saya harus baca pelan-pelan dan kadang ulang beberapa paragraf biar benar-benar paham maksudnya.
Novel ini bercerita tentang dua gadis remaja, satu Yahudi dan satu Palestina, yang hidup dalam situasi perang dan pengungsian. Ceritanya nggak disampaikan secara dramatis, tapi justru lewat narasi yang tenang dan penuh detail. Bahasa yang dipakai terasa dingin tapi menyentuh, bikin saya ikut ngerasain kesepian, ketakutan, dan kehilangan yang mereka alami. Saya jadi lebih peka terhadap isu kemanusiaan karena penulis menggambarkannya secara halus tapi kuat.
Pengalaman membaca Wandering Star bikin saya sadar bahwa bahasa dalam karya sastra itu bukan cuma soal indah atau tidak, tapi seberapa dalam ia bisa menyampaikan perasaan dan pesan. Walaupun gaya bahasanya agak sulit di awal, makin lama saya makin terbiasa, dan di akhir cerita saya benar-benar bisa menangkap makna utamanya. Buat saya pribadi, ini pengalaman membaca yang membuka wawasan dan mengasah empati.
Saya pernah membaca buku Semua untuk Hindia karya Iksaka Banu, yang berisi kumpulan cerpen berlatar masa kolonial. Bahasa yang digunakan cukup indah namun menantang karena banyak menggunakan istilah zaman dulu dan gaya penulisan klasik. Hal ini membuat saya perlu membaca lebih pelan agar memahami isi ceritanya.
Meskipun sulit di awal, gaya bahasa tersebut justru memperkuat nuansa zaman Hindia Belanda dan membuat kisah-kisah di dalamnya terasa lebih hidup. Cerpennya menyampaikan kritik sosial dengan cara halus namun tajam, sehingga saya bisa memahami ketimpangan dan konflik batin yang dialami para tokohnya. Buku ini memberi kesan mendalam sekaligus wawasan sejarah yang kuat.